Trump Presiden AS, Silicon Valley Ingin Pisah dan Jadi Negara Sendiri

Hasil penghitungan suara pemilu AS menyatakan Donald Trump sebagai pemenang. Perwakilan Partai Republik itu bakal memimpin negeri Paman Sam selama satu periode hingga 2020 mendatang.

Keputusan mayoritas warga AS tersebut nyatanya tak membuat semua orang senang. Salah satu yang paling keberatan adalah investor ternama di industri teknologi, Shervin Pishevar.

Ia mengatakan bakal memodali kampanye untuk membentuk California sebagai negara sendiri di luar AS. Agaknya ia tak rela California menjadi negara bagian di bawah naungan AS jika dinahkodai Trump.

Baca: Dikecam, Kicauan Donald Trump soal Islam

California sendiri merupakan rumah kawasan industri teknologi Silicon Valley. Negara bagian AS tersebut digadang-gadang bakal jadi kawasan ekonomi terbesar keenam di dunia berkat perkembangan bisnis teknologinya.

Rencana besar Pishevar itu diungkap melalui akun Twitter personalnya, sebagaimana dilaporkan BusinessInsider dan dihimpun KompasTekno, Kamis (10/11/2016).

Follow
Shervin ✔ @shervin
1/ If Trump wins I am announcing and funding a legitimate campaign for California to become its own nation.
10:21 AM – 9 Nov 2016
1,680 1,680 Retweets 3,254 3,254 likes
Follow
Shervin ✔ @shervin
We are in extremely dangerous times. Hatred emboldened by absolute power that if unchecked will shake the very firmaments of America.
1:07 PM – 9 Nov 2016
94 94 Retweets 193 193 likes
Pishevar dikenal sebagai investor awal layanan ride-sharing raksasa Uber. Ia sering berperan sebagai angel investor untuk startup teknologi yang baru lahir.

Selain Pishevar, sejumlah artis juga menyatakan sikap tegas menyusul terpilihnya Trump sebagai Presiden AS ke-45. Bebrapa di antaranya adalah Miley Cyrus, Samuel L Jackson, hingga komedia Jon Stewart.

Mereka sesumbar bakal pindah dari AS jika negara itu dipimpin Trump. Hingga kini, omongan itu belum bisa dibuktikan karena belum ada aksi nyatanya.

Trump bakal dilantik resmi menggantikan Barrack Obama pada 20 Januari 2017 mendatang. Pasangannya yang sebelumnya menjabat sebagai Gubernur Indiana, Mike Pence, akan dilantik sebagai Wakil Presiden ke-48 pada tanggal yang sama.

Trump Jadi Presiden AS, Begini Cara Pengguna Twitter Berduka

Netizen beramai-ramai mengganti foto profil dan header Twitter menjadi warna hitam layaknya sedang berduka. Mereka juga menuliskan status dengan embel-embel tanda pagar (tagar) #TwitterBlackout.

Gerakan maya itu adalah respons atas kemenangan Donald Trump dalam Pemilihan Umum Presiden AS 2016. Tentu saja, netizen yang bergabung dalam gerakan tersebut adalah barisan penolak Trump.

Mereka tak rela jika Negara Adikuasa dipimpin sang miliarder. Pesan itu disampaikan pada deskripsi #TwitterBlackout yang disebar di platform berlogo burung.

LGBTQ+ lives matter
Muslim lives matter
Women need equal rights
Black lives matter
Latino lives matter#twitterblackout #HesNotMyPresident pic.twitter.com/ZtUZ8vDePa

— lara |-/ (@charcoalskiess) November 9, 2016

Pantauan KompasTekno pada Rabu (9/11/2016) malam, tiap satu menit rata-rata ada tiga kicauan yang mematrikan tagar #TwitterBlackout. Tak jarang yang memadukannya dengan tagar #HesNotMyPresident dan #ImStillWithHer.

Baca: Donald Trump Mau Ajak Bill Gates Menutup Internet di AS

#ImStillWithHer sendiri berisi kicauan-kicauan netizen yang menyatakan tetap mendukung Hillary Clinton sebagai pemimpin AS. Hasil pemilu kali ini memang diwarnai kejutan, sebab banyak survei yang sebelumnya yakin kandidat dari Partai Demokrat yang bakal terpilih.

Selain gerakan di media sosial, penolakan Trump sebagai Presiden AS juga disuarakan beberapa figur publik. Salah satu investor kawakan di Silicon Valley menyatakan bakal memodali kampanye untuk menjadikan California sebagai negara sendiri.

Ia tak mau California yang merupakan markas kawasan industri teknologi Silicon Valley tetap menjadi negara bagian AS jika pemimpinnya adalah Trump.

Sejumlah selebritas pun sudah jauh hari sesumbar bakal pindah ke negara lain jika Trump menang. Beberapa di antaranya adalah Miley Curys dan Jon Stewart.

Baca: Trump Presiden AS, Silicon Valley Ingin Pisah dan Jadi Negara Sendiri

Apple Siapkan Tombol Darurat untuk iPhone

Apple dikabarkan sedang membuat sebuah tombol SOS atau panggilan darurat untuk disematkan pada sistem operasi iOS versi terbaru. Apabila merasa sedang dalam keadaan berbahaya, pengguna cukup menekan tombol tersebut, kemudian iPhone akan langsung terhubung ke polisi.

Tombol SOS tersebut rencananya akan dimasukkan ke pembaruan iOS mendatang. Saat ini raksasa teknologi California itu dikabarkan sudah menunjukkan versi purwarupanya kepada developer.

Cara kerjanya, pengguna cukup menekan tombol power lima kali untuk memicu panggilan darurat. Selanjutnya, akan muncul hitungan singkat menuju dimulainya panggilan itu.

Sebagaimana dilansir KompasTekno dari Mashable, Kamis (10/11/2016), tombol SOS ini rencananya dirilis untuk Amerika Serikat, Australia, Belgia, Brasil, China, Perancis, Hong Kong, India, Italia, Jepang, Rusia, Spanyol, dan Inggris. Belum diketahui apakah akan muncul di negara lain di luar daftar tersebut.

Selama ini, iPhone sebenarnya sudah memiliki fitur panggilan darurat. Namun panggilan ini dilakukan dengan cara menekan nomor telepon tertentu saat layar dalam keadaan terkunci.

Dengan menambahkan tombol darurat, maka pengguna bisa melakukan panggilan darurat dengan cara yang lebih mudah. Hal ini penting karena dalam kondisi tertentu, orang bisa saja kesulitan menekan nomor darurat dengan cara biasa.

Sementara waktu ini, tombol SOS hanya tersedia untuk para pengembang aplikasi yang memakai iOS 10.2 Beta 2. Tapi ada kemungkinan orang lain akan segera bisa mencobanya, yaitu saat Apple merilis iOS versi public beta dalam beberapa waktu mendatang.

Geevv, Mesin Pencari Buatan Mahasiswi Indonesia

Mesin pencari (search engine) Geevv.com bikinan mahasiswi asal Indonesia, Azka A. Silmi, berbeda dari produk sejenis yang sudah membanjiri internet. Produk bikinannya dan tim tersebut lebih ditujukan bagi kegiatan sosial.

Kegiatan sosial yang dimaksud termasuk model bisnis yang dipraktikkan, di mana 80 persen pendapatan iklan didonasikan untuk program sosial, dan target pengguna yang spesifik.

Azka, saat ditemui pada hari Rabu (9/11/2016) di Jakarta, mengatakan bahwa Geevv memang ditujukan untuk bermain di pasar khusus.

“Ini adalah social search engine, bukan local search engine,” sebutnya.

Konsep social search engine yang dimaksudkannya itu, pada masa awal ini berjalan dengan mekanisme, setiap kata yang diketikkan pengguna di kolom pencarian secara otomatis dikonversi menjadi sumbangan senilai Rp 10.

Besaran Rp 10 itu ditentukan dari nilai pembagian antara potensi jumlah iklan dan potensi jumlah pengguna, dikurangi proyeksi biaya operasional.

Adapun asal uang yang didonasikan dengan besaran yang dihitung dari jumlah pencarian oleh pengguna, pada masa awal ini untuk sementawa waktu berasal dari investasi modal.

Mekanisme tersebut setidaknya bakal dipraktikkan selama sekitar tiga bulan sejak versi beta Geevv diluncurkan pada 26 September lalu.

Inilah masa yang dipergunakan untuk melihat respons publik dan umpan balik yang dibutuhkan. Selain itu, juga diperuntukkan guna menarik minat sebanyak mungkin pengguna, yang hingga saat ini tercatat sekitar 200 ribu pengguna telah memanfaatkan Geevv untuk melakukan pencarian di belantara internet sekaligus melakukan donasi.

Setelah itu, mekanisme asal donasi bakal berasal dari pendapatan iklan yang dipasang di Geevv dan bakal dihitung berdasarkan metode pay per click dan pay per view. Pendapatan iklan ini, tetap bakal terus dengan komitmen dimana 80 persen hasilnya bakal didonasikan untuk program perbaikan kesehatan, pendidikan, dan pengentasan kemiskinan.

Sejumlah program sosial tersebut, juga bakal dilaksanakan oleh Geevv. “Kita tidak mau menjadikan (program bantuan sosial) hanya sebagai kampanye,” kata Azma.

Untuk menjalankan Geevv, Azma yang kini masih tercatat sebagai mahasiswi semester IX Program Studi Ilmu Administrasi Fiskal, Universitas Indonesia dibantu Andika Deni Prasetya yang juga masih duduk di bangku kuliah pada Program Studi Psikologi.

Keduanya dibantu sejumlah teman-teman mereka, di antaranya yakni Mugi Silih Mulyadi (social project management), Hana B. Adiningsih (blog writer), Janu Prasetya (social media & content manager), dan M. Ichlas (administrator).

Isi Memo CEO eBay kepada Karyawan Setelah Donald Trump Jadi Presiden

Terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) memicu kekhawatiran sejumlah pihak. Salah satunya adalah CEO eBay, Devin Wenig, yang langsung menanggapi terpilihnya Trump dengan mengirim memo kepada para karyawannya.

Sebenarnya, pada masa pemilihan presiden ini, pucuk pimpinan situs lelang online tersebut tak pernah aktif dalam diskusi-diskusi terbuka. Dia juga tak menyatakan pendapat apa pun mengenai kedua kandidat saat itu, yaitu Hillary Clinton dan Donald Trump.

Namun, ketika Donald Trump yang akhirnya menang dan akan dilantik menjadi Presiden AS pada 20 Januari 2017 mendatang, Davin khawatir lanskap industri teknologi dan inovasi akan berubah.

Menurut dia, teknologi dan inovasi membutuhkan kombinasi orang dari berbagai latar belakang. Sementara Donald Trump serta tim di baliknya cenderung berada di kutub berlawanan karena mendorong sikap anti-imigran.

Informasi yang KompasTekno rangkum dari Recode, Kamis (10/11/2016), Davin juga menceritakan mengenai salah satu bagian sejarah berdirinya eBay.

Baca: Trump Presiden AS, Silicon Valley Ingin Pisah dan Jadi Negara Sendiri

Dia menyorot dua hal. Pertama, eBay sebagai sebuah situs belanja online multinasional yang didirikan oleh seorang imigran asal Perancis, Pierre Omidyar. Kedua, kesuksesan eBay saat ini yang ditopang oleh pegawai dari bermacam-macam latar belakang negara.

“Keberagaman seperti ini adalah aset berharga yang kita miliki, seiring berusaha memajukan bisnis,” tulis Davin dalam memo tersebut.

Seperti diketahui, isu rasial dan keberagaman ini sempat menjadi sorotan semasa kampanye Donald Trump. Trump memiliki program kerja untuk mengembalikan integritas sistem imigrasi AS, dengan memprioritaskan kepentingan warga asli Amerika lebih utama.

Trump bahkan sampai menuduh bahwa imigran hanya membawa kekacauan di AS.

“Mereka membawa obat-obatan terlarang, menebar kejahatan, mereka juga pemerkosa,” kata Trump merujuk kepada imigran Meksiko yang tidak terdokumentasi dalam kampanyenya Juni lalu.

Isu keberagaman dan imigrasi inilah yang memicu Davin untuk menenangkan karyawannya melalui memo yang dibuatnya.

Lengkapnya, berikut ini isi memo Davin dalam bahasa Indonesia:

Tim Global,

AS telah memilih presiden berikutnya. Ini merupakan sebuah pemilihan bersejarah dan menguras emosi.

Beberapa bulan lalu, para pemilih di Inggris telah membuat keputusan bersejarah dengan nilai serupa; keputusan mengenai hubungan mereka dengan Uni Eropa (Brexit). Orang-orang pun menunjukkan sentimen bahwa pertumbuhan ekonomi tidak tersebar rata. Kami juga melihat ada nuansa ketakutan, serta gangguan yang dipicu oleh efek perubahan tren ekonomi terhadap kehidupan seseorang, termasuk dalam hal teknologi dan inovasi.

Selama ini saya memang selalu menghindari mengeluarkan pernyataan langsung terkait kandidat atau pemilu. Tetapi, sangat jelas bagi saya bahwa pernyataan dan tindakan seorang pemimpin teknologi global itu memiliki pengaruh. eBay pertama kali didirikan oleh seorang imigran di AS. Pierre membangun pijakan awal bisnis kami sambil menenteng keyakinan bahwa pada dasarnya semua orang memiliki kebaikan, dan warisan budaya perusahaan seperti inilah yang membuat saya bangga.

Sejak awal, eBay telah bekerja menciptakan marketplace yang inklusif, memiliki semangat perdagangan global, dan ditenagai oleh nilai kewirausahaan para pebisnis kecil. Seiring saya mengunjungi kantor kami yang ada di berbagai belahan dunia, saya mendapat kesempatan berinteraksi dengan orang dari macam-macam kewarganegaraan dan latar belakang. Keberagaman seperti ini adalah aset berharga yang kita miliki, seiring berusaha memajukan bisnis.

Meski kami merupakan salah satu pemimpin teknologi, platform kami berpusat pada manusia, baik itu pembeli, penjual, maupun pegawai. Kami membuat orang bisa saling terhubung dalam sebuah marketplace global. Ketika teknologi dianggap sebagai pemicu dehumanisasi dan perusak, kami mewakili filosofi yang menilai bahwa teknologi merupakan alat untuk mengangkat derajat manusia dan menciptakan kesempatan di segala lini. Kami akan terus mendukung prinsip serta kebijakan yang dibutuhkan oleh komunitas global eBay, dan tetap berbicara mengenai inklusi, perdagangan, serta aspek positif teknologi bagi kehidupan orang.

Sekarang, banyak sekali pekerjaan yang harus dituntaskan, dan kita pun sudah menjelang musim liburan. Kita mesti tetap fokus pada pekerjaan yang sedang dikerjakan. Perusahaan kita berada di jalur yang tepat. Tetapi, kita tetap membutuhkan usaha bersama demi menyelesaikan segala hal yang dimulai pada 2016 lalu, kemudian menyiapkan akselerasi perusahaan pada 2017.

Meski musim politik akan selalu silih berganti, kami akan tetap mengingat jati diri, tujuan hidup, dan kepada siapa kita mengabdi.

Chrome di Android Bakal Bisa “Browsing” Konten 360 Derajat

Perusahaan teknologi kawakan hingga startup sedang berlomba-lomba mengembangkan teknologi virtual reality (VR). Tahun depan, Google akan semakin jauh melengkapi ekosistemnya dengan teknologi tersebut.

Pabrikan Mountain View itu mengumumkan bakal menambahkan dukungan WebVR ke peramban Chrome di ponsel Android, sebagaimana dilaporkan PhoneArena dan dihimpun KompasTekno, Kamis (10/11/2016).

WebVR sendiri merupakan platform yang sudah ada sejak 2014. Platform itu tak lain adalah Javascript API yang digunakan untuk menikmati konten 360 derajat.

Artinya, pengguna ponsel Android nantinya bisa “browsing” atau berselancar situs berkonten 360 derajat tanpa perlu beralih ke aplikasi khusus. Syaratnya, penjajalan itu perlu didukung perangkat VR, seperti Google Cardboard, HTC Vive, Samsung Gear VR, atau Xiaomi Mi VR.

Diketahui, dua aplikasi yang selama ini sudah mengimplementasikan penjajalan konten 360 derajat adalah YouTube dan Facebook. Namun, pengguna harus membuka layanan tersebut untuk menikmati konten di dalamnya.

Dengan WebVR, pengguna Android bisa secara random menelusuri situs di peramban Chrome. Ketika bertemu konten 360 derajat, pengguna tak perlu lagi repot ganti aplikasi untuk menikmatinya.

Implementasi WebVR pada peramban Chrome di Android ditargetkan mulai Januari 2017 mendatang. Kita tunggu saja.

Bersama Bayi Max, Zuckerberg Komentari Trump Jadi Presiden AS

Jalannya pemilu di AS turut diikuti oleh Mark Zuckerberg. Pendiri sekaligus CEO Facebook itu memantau proses demokrasi tersebut bersama putrinya yang belum genap berumur dua tahun, Max.

Zuckerberg kemudian mengunggah status dan fotonya bersama sang putri di Facebook mengenai pemilu yang menaikkan pengusaha sekaligus bintang reality show Donald Trump ke kursi kepresidenan itu.

Berbeda dari dedengkot lain di Silicon Valley yang bersuara keras -misalnya venture capitalist Shervin Pishevar yang menuntut kemerdekaan negara bagian Califormia usai Trump menang dan resmi menjadi Presiden AS. Kata-kata yang dilontarkan Zuckerberg cenderung lebih diplomatis.

Baca: Trump Presiden AS, Silicon Valley Ingin Pisah dan Jadi Negara Sendiri

Tanpa menyebut nama Trump dalam komentar, dia menekankan bahwa pengembangan banyak hal baru di masa depan membutuhkan rencana jangka panjang yang terus berlanjut, tak peduli siapapun presidennya.

“Peluang-peluang terpenting di generasi Max -seperti menyembuhkan semua penyakit, meningkatkan edukasi, serta saling menghubungkan dan memberikan kesempatan yang sama kepada semua orang- membutuhkan fokus jangka panjang dan cara baru untuk bekerja sama, kadang sampai beberapa dekade,” tulis Zuckerberg.

“Tugas ini lebih besar dari kepresidenan manapun dan kemajuan tidak terjadi dalam garis lurus,” tambah dia sedikit bermetafora, sebelum mengakhiri dengan ajakan untuk bekerja lebih giat.
Facebook disalahkan

Di sisi lain, beberapa pihak menyalahkan jejaring sosial seperti Facebook atas kemenangan Trump. Biang kerok yang dituding adalah mekanisme algoritma News Feed yang mencoba menyajikan hal-hal yang disukai pengguna saja.

Walhasil, ketika seorang teman membagikan konten yang sebenarnya salah (misalnya teori konspirasi seorang kandidat presiden) tapi sesuai dengan pandangan dan kesukaan pengguna, maka konten tersebut tetap akan ditampilkan di News Feed Facebook.

Sebaliknya, konten yang benar tapi tidak sesuai dengan pandangan dan kesukaan pengguna tidak ditampilkan sehingga lama kelamaan terbentuk “filter bubble” yang mencampuradukkan fakta dengan fiksi dan semakin memperkuat pandangan awal pengguna.

Efek hal tersebut semakin terasa karena sebagian besar orang dewasa di AS (sebanyak 63 persen) mengandalkan Faceboo sebagai sumber berita mengenai isu-isu terkini, menurut sebuah survei dari Pew Research Center.

Facebook menerapkan algoritma News Feed yang disesuaikan dengan preferensi pengguna ini untuk menjaga engagement. Kalau pengguna banyak melihat hal yang tidak disukai atau berlawanan dengan pandangannya, besar kemungkinan ia akan hengkang sehingga akibatnya buruk untuk bisnis Facebook.

Jejaring sosial itu tidak merasa bertanggung jawab menyajikan konten yang berimbang ke hadapan pengguna.

“(Perusahaan media) punya orang-orang yang menyunting konten,” kata Zuckerberg Agustus lalu. “Itu bukan kami.. Kami perusahaan teknologi, bukan perusahaan media.”