Efek Artistik Prisma Bisa Dipakai “Streaming” Facebook Live

Efek artistik Prisma kini bisa dipakai untuk mengedit video siaran langsung melalui Facebook Live.

Filter-filter dalam Prisma banyak disukai karena bisa mengubah video atau foto menjadi sesuatu yang lebih mirip dengan sketsa, lukisan, atau gambar kartun.

Kini, filter-filter seperti itu juga bisa diterapkan secara real-time, pada video yang disiarkan langsung oleh Facebook Live. Anda dapat bayangkan, wajah dan latar yang disiarkan itu berubah menjadi sketsa atau mirip lukisan cat air.

Namun tidak semua ponsel sanggup menangani siaran langsung menggunakan berbagai efek dari Prisma. Fitur ini mensyaratkan pemrosesan gambar yang dilakukan secara lokal, dalam perangkat, sehingga membutuhkan ponsel dengan spesifikasi dan kinerja tinggi.

Informasi yang dirangkum KompasTekno dari TechCrunch, Rabu (9/11/2016), untuk sementara waktu ini, hanya iPhone 7 dan 6s saja yang bisa melakukannya.

“Memang tidak semua ponsel bisa menangani pemrosesan (filter video real-time) ini. Sekarang kami sedang berusaha membuat fitur serupa bisa dipakai di ponsel Android, tapi hanya yang memiliki kinerja tingkat tinggi saja,” terang co-founder Prisma, Aram Airapetyan.

Para pengguna iPhone 7 dan 6s yang ingin mencoba fitur ini, mesti menghubungkan akun Facebook mereka dengan aplikasi Prisma. Selanjutnya, mereka tinggal melakukan siaran langsung Facebook Live dan memilih berbagai filter dalam Prisma.

Berikut ini, contoh video siaran langsung co-founder Prisma, Alexey Moiseenkov saat menggunakan filter Prisma di Facebook Live.

Perlukah “Smartphone” Android Dibekali Antivirus?

Ada berbagai peringatan yang menyebutkan betapa berbahayanya virus atau malware pada Android. Di antaranya bisa membuat peretas menyandera ponsel dari jarak jauh, hingga membuat data di ponsel dicuri pihak tidak bertanggung jawab.

Sebagai solusi penangkal malware, sejumlah perusahaan menawarkan aplikasi antivirus. Masing-masing mengklaim sebagai yang paling jago mengamankan dan menebak keberadaan aplikasi jahat yang bakal mengancam pengguna.

Tapi apakah benar pengguna wajib memakai aplikasi antivirus untuk melindungi diri? Atau ternyata ada alternatif lain?

Ternyata jawabannya tidak. Pengguna tak wajib memasang aplikasi antivirus untuk melindungi gadget dari serangan program jahat dan sejenisnya.

Informasi yang dirangkum KompasTekno dari Extreme Tech, Selasa (8/11/2016), menunjukkan bahwa selama ini pengguna gadget masih membayangkan virus atau malware Android itu serupa dengan yang ada di PC. Padahal sistem Android dan PC berbeda.

Pada PC, malware bisa menyusup ke dalam sistem hanya karena pengguna mengunjungi situs berisi program jahat menggunakan browser yang tidak memiliki perlindungan.

Sedangkan pada Android, pola serangan tidak akan terjadi semudah itu. Pasalnya, pengguna mesti mengklik atau memberi persetujuan pada notifikasi tertentu agar bisa memasang aplikasi yang sumbernya dari luar Google Play Store.

Google Play Store sendiri sudah memiliki perlindungan berlapis. Berbagai aplikasi yang diunggah untuk ditawarkan dalam daftar milik Play Store akan mengalami pemindaian komputer dan manusia. Alhasil, malware atau virus akan lebih sulit menyusup.

Solusi yang ditawarkan oleh perusahaan keamanan adalah memasang aplikasi antivirus yang cara kerjanya agak mirip dengan perlindungan pada Google Play Store. Salah satu perbedaannya, aplikasi antivirus bekerja di dalam ponsel.

Beberapa hal yang dilakukan oleh aplikasi antivirus adalah memindai setiap aplikasi dalam ponsel, mengawasi lalu lintas web, dan berbagai tindakan lain. Karena tindakan ini bergerak dan dilakukan dalam ponsel, maka akan membutuhkan daya lebih besar.

Efeknya, baterai ponsel cenderung lebih mudah habis karena beban kerja aplikasi antivirus tersebut. Selain itu, seringkali aplikasi ini menampilkan berbagai notifikasi atau pop-up yang mengganggu.

Bila pengguna nyaman dengan segala efek pemakaian antivirus seperti itu, tentu saja sah untuk memasangnya. Namun bila merasa tidak nyaman, atau meragukan efektivitasnya, boleh saja memakai cara lain.

Cara aman tanpa antivirus

Tanpa antivirus, pengguna Android bisa tetap aman. Hanya saja, ada sejumlah hal yang membutuhkan perhatian dan kewaspadaan ekstra.

Pertama, jangan pernah mengubah pengaturan default keamanan di ponsel Android. Dalam menu pengaturan keamanan di seluruh ponsel Android terdapat satu kolom bernama “Unknown Source”, untuk mengelola pemasangan aplikasi.

Sejatinya, kolom ini selalu dalam keadaan “disable”. Pengguna mesti “enable” secara manual jika ingin memasang aplikasi dari file APK yang diperoleh dari luar Google Play Store.

Jika tetap ingin menggunakan fitur tersebut, saat pertama kali memakainya, akan muncul sebuah pop-up yang meminta Anda mengizinkan Google untuk memindai kegiatan mencurigakan di dalam ponsel.

Ini adalah fitur yang bernama Verify Apps dan bagian dari Google Play Services di seluruh ponsel Android resmi. Cukup nyalakan saja sehingga berbagai hal mencurigakan yang sudah teridentifikasi oleh Verify Apps akan otomatis diblokir.

Kedua, jangan gunakan root access. Dulu, banyak pengguna Android yang melakukan root pada ponselnya. Root ini bisa diibaratkan menjalankan sebuah komputer dalam mode admin sehingga pengguna bisa mengakses lebih banyak hal.

Memang menjalankan root access bisa dilakukan dengan aman, tapi tetap saja ada risiko. Pasalnya, ada saja malware yang membutuhkan akses ini agar bisa berfungsi. Tanpa Anda membuka akses tersebut, maka malware tidak akan bisa bekerja meski sebenarnya sudah diunduh dan disimpan dalam ponsel.

Jadi jika tidak ada hal penting yang membutuhkan root access, sebaiknya Anda tidak membukanya.

Ketiga, jika memang aplikasi dari luar Google Play Store, pastikan memasang dari sumber terpercaya. Misalnya, Amazon dan lain-lainnya.

Bahkan, seandainya Anda memasang aplikasi dari Google Play Store, tetaplah waspada. Toko aplikasi ini memang memiliki sistem keamanan, tapi bukan berarti Anda bisa sembarangan memasang aplikasi ke ponsel.

Ketika Anda ingin memasang aplikasi dari toko Google itu, Anda akan dihadapkan kepada sejumlah permintaan izin akses, seperti kamera, microphone, atau lainnya.

Nah sebaiknya, perhatikan baik-baik izin apakah yang diminta dan pertimbangkan apakah apliksasi yang akan Anda pasang itu meminta sesuatu yang sesuai kegunaannya, atau ternyata merambat ke permintaan akses lain yang tidak sesuai.

Trump Presiden AS, Silicon Valley Ingin Pisah dan Jadi Negara Sendiri

Hasil penghitungan suara pemilu AS menyatakan Donald Trump sebagai pemenang. Perwakilan Partai Republik itu bakal memimpin negeri Paman Sam selama satu periode hingga 2020 mendatang.

Keputusan mayoritas warga AS tersebut nyatanya tak membuat semua orang senang. Salah satu yang paling keberatan adalah investor ternama di industri teknologi, Shervin Pishevar.

Ia mengatakan bakal memodali kampanye untuk membentuk California sebagai negara sendiri di luar AS. Agaknya ia tak rela California menjadi negara bagian di bawah naungan AS jika dinahkodai Trump.

Baca: Dikecam, Kicauan Donald Trump soal Islam

California sendiri merupakan rumah kawasan industri teknologi Silicon Valley. Negara bagian AS tersebut digadang-gadang bakal jadi kawasan ekonomi terbesar keenam di dunia berkat perkembangan bisnis teknologinya.

Rencana besar Pishevar itu diungkap melalui akun Twitter personalnya, sebagaimana dilaporkan BusinessInsider dan dihimpun KompasTekno, Kamis (10/11/2016).

Follow
Shervin ✔ @shervin
1/ If Trump wins I am announcing and funding a legitimate campaign for California to become its own nation.
10:21 AM – 9 Nov 2016
1,680 1,680 Retweets 3,254 3,254 likes
Follow
Shervin ✔ @shervin
We are in extremely dangerous times. Hatred emboldened by absolute power that if unchecked will shake the very firmaments of America.
1:07 PM – 9 Nov 2016
94 94 Retweets 193 193 likes
Pishevar dikenal sebagai investor awal layanan ride-sharing raksasa Uber. Ia sering berperan sebagai angel investor untuk startup teknologi yang baru lahir.

Selain Pishevar, sejumlah artis juga menyatakan sikap tegas menyusul terpilihnya Trump sebagai Presiden AS ke-45. Bebrapa di antaranya adalah Miley Cyrus, Samuel L Jackson, hingga komedia Jon Stewart.

Mereka sesumbar bakal pindah dari AS jika negara itu dipimpin Trump. Hingga kini, omongan itu belum bisa dibuktikan karena belum ada aksi nyatanya.

Trump bakal dilantik resmi menggantikan Barrack Obama pada 20 Januari 2017 mendatang. Pasangannya yang sebelumnya menjabat sebagai Gubernur Indiana, Mike Pence, akan dilantik sebagai Wakil Presiden ke-48 pada tanggal yang sama.

Trump Jadi Presiden AS, Begini Cara Pengguna Twitter Berduka

Netizen beramai-ramai mengganti foto profil dan header Twitter menjadi warna hitam layaknya sedang berduka. Mereka juga menuliskan status dengan embel-embel tanda pagar (tagar) #TwitterBlackout.

Gerakan maya itu adalah respons atas kemenangan Donald Trump dalam Pemilihan Umum Presiden AS 2016. Tentu saja, netizen yang bergabung dalam gerakan tersebut adalah barisan penolak Trump.

Mereka tak rela jika Negara Adikuasa dipimpin sang miliarder. Pesan itu disampaikan pada deskripsi #TwitterBlackout yang disebar di platform berlogo burung.

LGBTQ+ lives matter
Muslim lives matter
Women need equal rights
Black lives matter
Latino lives matter#twitterblackout #HesNotMyPresident pic.twitter.com/ZtUZ8vDePa

— lara |-/ (@charcoalskiess) November 9, 2016

Pantauan KompasTekno pada Rabu (9/11/2016) malam, tiap satu menit rata-rata ada tiga kicauan yang mematrikan tagar #TwitterBlackout. Tak jarang yang memadukannya dengan tagar #HesNotMyPresident dan #ImStillWithHer.

Baca: Donald Trump Mau Ajak Bill Gates Menutup Internet di AS

#ImStillWithHer sendiri berisi kicauan-kicauan netizen yang menyatakan tetap mendukung Hillary Clinton sebagai pemimpin AS. Hasil pemilu kali ini memang diwarnai kejutan, sebab banyak survei yang sebelumnya yakin kandidat dari Partai Demokrat yang bakal terpilih.

Selain gerakan di media sosial, penolakan Trump sebagai Presiden AS juga disuarakan beberapa figur publik. Salah satu investor kawakan di Silicon Valley menyatakan bakal memodali kampanye untuk menjadikan California sebagai negara sendiri.

Ia tak mau California yang merupakan markas kawasan industri teknologi Silicon Valley tetap menjadi negara bagian AS jika pemimpinnya adalah Trump.

Sejumlah selebritas pun sudah jauh hari sesumbar bakal pindah ke negara lain jika Trump menang. Beberapa di antaranya adalah Miley Curys dan Jon Stewart.

Baca: Trump Presiden AS, Silicon Valley Ingin Pisah dan Jadi Negara Sendiri

Apple Siapkan Tombol Darurat untuk iPhone

Apple dikabarkan sedang membuat sebuah tombol SOS atau panggilan darurat untuk disematkan pada sistem operasi iOS versi terbaru. Apabila merasa sedang dalam keadaan berbahaya, pengguna cukup menekan tombol tersebut, kemudian iPhone akan langsung terhubung ke polisi.

Tombol SOS tersebut rencananya akan dimasukkan ke pembaruan iOS mendatang. Saat ini raksasa teknologi California itu dikabarkan sudah menunjukkan versi purwarupanya kepada developer.

Cara kerjanya, pengguna cukup menekan tombol power lima kali untuk memicu panggilan darurat. Selanjutnya, akan muncul hitungan singkat menuju dimulainya panggilan itu.

Sebagaimana dilansir KompasTekno dari Mashable, Kamis (10/11/2016), tombol SOS ini rencananya dirilis untuk Amerika Serikat, Australia, Belgia, Brasil, China, Perancis, Hong Kong, India, Italia, Jepang, Rusia, Spanyol, dan Inggris. Belum diketahui apakah akan muncul di negara lain di luar daftar tersebut.

Selama ini, iPhone sebenarnya sudah memiliki fitur panggilan darurat. Namun panggilan ini dilakukan dengan cara menekan nomor telepon tertentu saat layar dalam keadaan terkunci.

Dengan menambahkan tombol darurat, maka pengguna bisa melakukan panggilan darurat dengan cara yang lebih mudah. Hal ini penting karena dalam kondisi tertentu, orang bisa saja kesulitan menekan nomor darurat dengan cara biasa.

Sementara waktu ini, tombol SOS hanya tersedia untuk para pengembang aplikasi yang memakai iOS 10.2 Beta 2. Tapi ada kemungkinan orang lain akan segera bisa mencobanya, yaitu saat Apple merilis iOS versi public beta dalam beberapa waktu mendatang.

Geevv, Mesin Pencari Buatan Mahasiswi Indonesia

Mesin pencari (search engine) Geevv.com bikinan mahasiswi asal Indonesia, Azka A. Silmi, berbeda dari produk sejenis yang sudah membanjiri internet. Produk bikinannya dan tim tersebut lebih ditujukan bagi kegiatan sosial.

Kegiatan sosial yang dimaksud termasuk model bisnis yang dipraktikkan, di mana 80 persen pendapatan iklan didonasikan untuk program sosial, dan target pengguna yang spesifik.

Azka, saat ditemui pada hari Rabu (9/11/2016) di Jakarta, mengatakan bahwa Geevv memang ditujukan untuk bermain di pasar khusus.

“Ini adalah social search engine, bukan local search engine,” sebutnya.

Konsep social search engine yang dimaksudkannya itu, pada masa awal ini berjalan dengan mekanisme, setiap kata yang diketikkan pengguna di kolom pencarian secara otomatis dikonversi menjadi sumbangan senilai Rp 10.

Besaran Rp 10 itu ditentukan dari nilai pembagian antara potensi jumlah iklan dan potensi jumlah pengguna, dikurangi proyeksi biaya operasional.

Adapun asal uang yang didonasikan dengan besaran yang dihitung dari jumlah pencarian oleh pengguna, pada masa awal ini untuk sementawa waktu berasal dari investasi modal.

Mekanisme tersebut setidaknya bakal dipraktikkan selama sekitar tiga bulan sejak versi beta Geevv diluncurkan pada 26 September lalu.

Inilah masa yang dipergunakan untuk melihat respons publik dan umpan balik yang dibutuhkan. Selain itu, juga diperuntukkan guna menarik minat sebanyak mungkin pengguna, yang hingga saat ini tercatat sekitar 200 ribu pengguna telah memanfaatkan Geevv untuk melakukan pencarian di belantara internet sekaligus melakukan donasi.

Setelah itu, mekanisme asal donasi bakal berasal dari pendapatan iklan yang dipasang di Geevv dan bakal dihitung berdasarkan metode pay per click dan pay per view. Pendapatan iklan ini, tetap bakal terus dengan komitmen dimana 80 persen hasilnya bakal didonasikan untuk program perbaikan kesehatan, pendidikan, dan pengentasan kemiskinan.

Sejumlah program sosial tersebut, juga bakal dilaksanakan oleh Geevv. “Kita tidak mau menjadikan (program bantuan sosial) hanya sebagai kampanye,” kata Azma.

Untuk menjalankan Geevv, Azma yang kini masih tercatat sebagai mahasiswi semester IX Program Studi Ilmu Administrasi Fiskal, Universitas Indonesia dibantu Andika Deni Prasetya yang juga masih duduk di bangku kuliah pada Program Studi Psikologi.

Keduanya dibantu sejumlah teman-teman mereka, di antaranya yakni Mugi Silih Mulyadi (social project management), Hana B. Adiningsih (blog writer), Janu Prasetya (social media & content manager), dan M. Ichlas (administrator).