Chrome di Android Bakal Bisa “Browsing” Konten 360 Derajat

Perusahaan teknologi kawakan hingga startup sedang berlomba-lomba mengembangkan teknologi virtual reality (VR). Tahun depan, Google akan semakin jauh melengkapi ekosistemnya dengan teknologi tersebut.

Pabrikan Mountain View itu mengumumkan bakal menambahkan dukungan WebVR ke peramban Chrome di ponsel Android, sebagaimana dilaporkan PhoneArena dan dihimpun KompasTekno, Kamis (10/11/2016).

WebVR sendiri merupakan platform yang sudah ada sejak 2014. Platform itu tak lain adalah Javascript API yang digunakan untuk menikmati konten 360 derajat.

Artinya, pengguna ponsel Android nantinya bisa “browsing” atau berselancar situs berkonten 360 derajat tanpa perlu beralih ke aplikasi khusus. Syaratnya, penjajalan itu perlu didukung perangkat VR, seperti Google Cardboard, HTC Vive, Samsung Gear VR, atau Xiaomi Mi VR.

Diketahui, dua aplikasi yang selama ini sudah mengimplementasikan penjajalan konten 360 derajat adalah YouTube dan Facebook. Namun, pengguna harus membuka layanan tersebut untuk menikmati konten di dalamnya.

Dengan WebVR, pengguna Android bisa secara random menelusuri situs di peramban Chrome. Ketika bertemu konten 360 derajat, pengguna tak perlu lagi repot ganti aplikasi untuk menikmatinya.

Implementasi WebVR pada peramban Chrome di Android ditargetkan mulai Januari 2017 mendatang. Kita tunggu saja.

Iklan

Bersama Bayi Max, Zuckerberg Komentari Trump Jadi Presiden AS

Jalannya pemilu di AS turut diikuti oleh Mark Zuckerberg. Pendiri sekaligus CEO Facebook itu memantau proses demokrasi tersebut bersama putrinya yang belum genap berumur dua tahun, Max.

Zuckerberg kemudian mengunggah status dan fotonya bersama sang putri di Facebook mengenai pemilu yang menaikkan pengusaha sekaligus bintang reality show Donald Trump ke kursi kepresidenan itu.

Berbeda dari dedengkot lain di Silicon Valley yang bersuara keras -misalnya venture capitalist Shervin Pishevar yang menuntut kemerdekaan negara bagian Califormia usai Trump menang dan resmi menjadi Presiden AS. Kata-kata yang dilontarkan Zuckerberg cenderung lebih diplomatis.

Baca: Trump Presiden AS, Silicon Valley Ingin Pisah dan Jadi Negara Sendiri

Tanpa menyebut nama Trump dalam komentar, dia menekankan bahwa pengembangan banyak hal baru di masa depan membutuhkan rencana jangka panjang yang terus berlanjut, tak peduli siapapun presidennya.

“Peluang-peluang terpenting di generasi Max -seperti menyembuhkan semua penyakit, meningkatkan edukasi, serta saling menghubungkan dan memberikan kesempatan yang sama kepada semua orang- membutuhkan fokus jangka panjang dan cara baru untuk bekerja sama, kadang sampai beberapa dekade,” tulis Zuckerberg.

“Tugas ini lebih besar dari kepresidenan manapun dan kemajuan tidak terjadi dalam garis lurus,” tambah dia sedikit bermetafora, sebelum mengakhiri dengan ajakan untuk bekerja lebih giat.
Facebook disalahkan

Di sisi lain, beberapa pihak menyalahkan jejaring sosial seperti Facebook atas kemenangan Trump. Biang kerok yang dituding adalah mekanisme algoritma News Feed yang mencoba menyajikan hal-hal yang disukai pengguna saja.

Walhasil, ketika seorang teman membagikan konten yang sebenarnya salah (misalnya teori konspirasi seorang kandidat presiden) tapi sesuai dengan pandangan dan kesukaan pengguna, maka konten tersebut tetap akan ditampilkan di News Feed Facebook.

Sebaliknya, konten yang benar tapi tidak sesuai dengan pandangan dan kesukaan pengguna tidak ditampilkan sehingga lama kelamaan terbentuk “filter bubble” yang mencampuradukkan fakta dengan fiksi dan semakin memperkuat pandangan awal pengguna.

Efek hal tersebut semakin terasa karena sebagian besar orang dewasa di AS (sebanyak 63 persen) mengandalkan Faceboo sebagai sumber berita mengenai isu-isu terkini, menurut sebuah survei dari Pew Research Center.

Facebook menerapkan algoritma News Feed yang disesuaikan dengan preferensi pengguna ini untuk menjaga engagement. Kalau pengguna banyak melihat hal yang tidak disukai atau berlawanan dengan pandangannya, besar kemungkinan ia akan hengkang sehingga akibatnya buruk untuk bisnis Facebook.

Jejaring sosial itu tidak merasa bertanggung jawab menyajikan konten yang berimbang ke hadapan pengguna.

“(Perusahaan media) punya orang-orang yang menyunting konten,” kata Zuckerberg Agustus lalu. “Itu bukan kami.. Kami perusahaan teknologi, bukan perusahaan media.”

Ukuran Layar Galaxy S8 Lebih Besar dari Sebelumnya?

Samsung Galaxy S8 diprediksi meluncur pada Februari 2017 mendatang. Isu soal smartphone unggulanSamsung itu mulai deras mengalir di internet sejak beberapa minggu terakhir.

Rumor sebelumnya menyebut Galaxy S8 mengusung desain tanpa bezel serupa Mi Mix keluaran Xiaomi. Sebagai tambahan, seorang sumber mengatakan Galaxy S8 akan berlayar jumbo.

Menurut sumber yang tak mau disebut identitasnya, Galaxy S8 punya varian layar 5,7 inci dan 6,2 inci, sebagaimana dilaporkan BGR dan dihimpun KompasTekno, Kamis (10/11/2016). Ukuran layar ini di luar kebiasaan lini Galaxy S, melainkan umum dipakai di lini phablet Galaxy Note.

Samsung agaknya punya alasan khusus mengusung layar phablet pada Galaxy S8. Pabrikan Korea Selatan tersebut, menurut sumber, ingin menjadikan Galaxy S8 sebagai pengganti Galaxy Note 7 yang produksinya dihentikan pada Oktober lalu.

Baca: Wajah Galaxy S8 Tiru Xiaomi Mi Mix?

“Ini adalah cara untuk menarik target pasar seri Note yang mau perangkat berlayar besar,” kata sumber tersebut.

Jika rumor ini benar, artinya Galaxy S8 memang sengaja didesain berbeda dari pendahulunya. Pada Galaxy S7, ukuran layar cuma 5,1 inci dan 5,5 inci (Edge).

Meski demikian, sumber itu menyebut ukuran bodi Galaxy S8 akan sama saja dengan Galaxy S7. Ukuran layar yang lebih besar di Galaxy S8 dimungkinkan dengan desain layar tanpa bingkai (bezel) yang membuat rasio bodi dan layar lebih luas.

Selain soal ukuran, Galaxy S8 juga digadang-gadang tak akan memiliki varian layar datar. Versi 5,7 inci (orisinal) dan 6,2 inci (Plus) akan sama-sama memakai layar lengkung.

Samsung sendiri masih enggan mengonfirmasi isu yang beredar. Benar atau tidaknya berbagai rumor bisa dipastikan dalam beberapa bulan ke depan.

Spesifikasi Vivo X9 dan X9 Plus Terungkap lewat Poster

Vivo dijadwalkan merilis duet smartphone X9 dan X9 Plus pada 17 November di Beijing, China. Masih sepekan menjelang hari peluncuran, sebuah poster promosi sudah mengumbar spesifikasi flagship tersebut.

Menurut poster promosi yang ditulis dalam bahasa China itu, Vivo X9 memiliki layar 5,2 inci dengan resolusi 1080 piksel. Otaknya mengandalkan chipset Snapdragon dengan CPU delapan inti (octa-core).

Spesifikasi lainnya mencakup RAM 4 GB, memori 64 GB, dan baterai 3.050 mAh, sebagaimana dilaporkan AndroidAuthority dan dihimpun KompasTekno, Kamis (10/11/2016).

Twitter @kJuma
poster bocorkan spesifikasi Vivo X9.
Untuk varian Plus, layarnya sedikit lebih besar yakni 5,86 inci dengan resolusi 1080 piksel. Chipset Snapdragon 653 diandalkan di varian ini.

Spesifikasi lain dari X9 Plus dibikin lebih mumpuni ketimbang versi orisinilnya. RAM dan memori ditingkatkan, masing-masing menjadi RAM 6 GB dan memori internal 64 GB. Kapasitas baterainya pun meningkat menjadi 4.000 mAh.

Secara garis besar, masih menurut foto poster yang beredar di internet, desain dan spesifikasi duet X9 sebenarnya tak beda jauh dengan X7 keluaran pertengahan tahun ini.

Kamera ganda

Satu fitur yang signifikan dari duet X9 ini adalah dipakainya kamera ganda dengan lensa berbeda pula. Informasi soal kamera ganda ini sebenarnya sudah terendus sejak beberapa hari lalu lewat akun Twitter resmi Vivo. Poster kali ini cuma memperkuat saja.

Tak tanggung-tanggung, lensa ganda yang digunakan memadukan sensor berkualitas 20 megapiksel dengan 8 megapiksel. Kamera tersebut dikatakan akan dipasang pada kamera selfie di bagian depan, bukan kamera utama di belakang.

Baca: Vivo X9 Punya Kamera Ganda untuk Selfie?

Sensor 20 megapiksel digadang-gadang menjadi andalan untuk pengambilan gambar sudut lebar (wide-angle). Sementara itu, kamera lain dengan resolusi 8 megapiksel digunakan untuk membuat efek “bokeh” atau blur di latar belakang objek yang dijepret.

Berbagai informasi ini belum bisa benar-benar terkonfirmasi hingga acara peluncuran dilangsungkan. Kita tunggu saja.

Gerahnya “Timeline” Facebook Pasca-Donald Trump Jadi Presiden

Setelah pengumuman Donald Trump sebagai pemenang Pemilihan Umum (Pemilu) Presiden Amerika Serikat (AS) 2016, para pengguna Facebook di AS merasa gerah dengan postingan-postingan teman-teman mereka yang muncul di timeline.

Karena rasa gerah itu, mereka pun menyortir ulang daftar teman, unfriend,atau memutus hubungan pertemanan mereka di Facebook. Sementara itu, yang lain memilih menekan tombol mute notifications.

Tindakan tersebut terjadi bukan tanpa alasan. Seiring kemenangan tokoh publik, para pendukungnya ramai-ramai menyuarakan sukacita hingga obsesinya melalui media sosial. Ini fenomena yang jamak terjadi di mana-mana.

Facebook, dengan total sekitar 1,5 miliar orang pengguna dari seluruh dunia, tentu merupakan salah satu lahan tempat bertebarannya suara-suara tersebut. Bagi pendukung kubu berlawanan atau orang-orang yang mungkin netral, suara itu tak selalu menyenangkan.

“Saya unfriend sekitar 10 orang hari ini karena tidak mau melihat perayaan kemenangan Trump dalam status mereka. Saya juga unfriend dua orang lain, termasuk bibi saya, karena mereka menulis komentar pro-Trump dalam status sedih saya mengenai Hillary,” kata Lauren sebagaimana dilansir KompasTekno dari Chicago Tribune, Kamis (10/11/2016).

“Saya unfriend kakak dan adik ipar saya hari ini. Saya sudah tahu mereka pendukung Trump, bukan disebabkan mereka tidak menyenangkan, melainkan karena melihat posts serta likes mereka justru membuat saya makin merasa betapa kami ternyata berbeda,” kata Laura Fitch, warga Chicago yang juga pendukung Hillary.

Digital Trends
Ilustrasi Facebook Mobile
Lauren dan Laura hanyalah dua dari sekian banyak warga AS, sekaligus pengguna Facebook yang memilih tombol unfriend pasca-kemenangan Trump. Selain mereka, masih ada warga lain yang berkeputusan sama, tetapi dengan alasan berbeda. Intinya ialah karena reaksi yang terlalu heboh dari pendukung Hillary maupun Trump.

“Reaksi kedua kubu sama-sama terlalu berlebihan. Saya tidak akan menyebut tindakan mereka jahat karena rasanya tidak banyak niat buruk di dalamnya. Namun, saya pilih unfriend karena mereka terus-menerus mengunggah berita politik dan tidak bisa bersikap sopan,” kata Adam Kmiec, warga Chicago yang menolak menyebutkan calon yang didukungnya.

“Saya malah melihat ada banyak rasa kecewa dan kebahagiaan. Banyak juga ketidakpastian serta rasa kaget,” kata Ashvin Lad, warga Chicago lain.

Komputer Pintar Google Belajar Main “Starcraft”

Setelah berhasil mengalahkan manusia juara dunia asal Korea Selatan di game tradisional Go, kecerdasan buatan (AI) besutan tim Google DeepMind bersiap mengambil tantangan baru. Kini, AI bikinan perusahaan tersebut coba menaklukkan video game strategi terkenal, Starcraft II.

DeepMind mengumumkan kemitraannya dengan pihak Blizzard selaku pengembang seri game StarCraft dalam konferensi BlizzCon yang berlangsung di Anaheim, AS, hari Minggu (6/11/2016) lalu.

“StarCraft adalah lingkungan pengujian yang menarik untuk riset AI karena memberikan gambaran kacaunya dunia nyata. Kemampuan untuk mengenali lingkungan dan bermain StarCraft dengan baik bisa diterjemahkan ke tugas di dunia nyata,” sebut tim DeepMind, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari ZD Net, Kamis (10/11/2016).

Bermain game komputer merupakan hal yang sulit bagi kecerdasan buatan. Karena tak punya mata, misalnya, AI DeepMind mesti membaca tiap pixel di layar untuk menerjemahkan bentuk unit pemain, kontur peta, dan hal-hal lain dalam StarCraft II.

Terlebih, game sebagai real-time strategy, StarCraft II memiliki gameplay yang kompleks. Pemain mesti memilih salah satu dari tiga ras dalam game yang masing-masing memiliki karakter bereda, lantas mulai membangun markas, menjelajahi peta, dan menyesuaikan strategi dalam waktu bersamaan.

Menurut tim DeepMind, video game merupakan salah satu cara terbaik untuk pengujian dan pengembangan AI. Dalam hal ini StarCraft yang disebut sebagai “puncak video game kompetitif satu lawan satu” menyediakan lingkungan yang ideal.

“DeepMind memiliki misi untuk mendongkrak batasan AI, mengembangkan program yang bisa belajar untuk memecahkan masalah kompleks tanpa perlu diberitahukan caranya,” ujar tim Deepmind.

“Game adalah lingkungan sempurna untuk melakukan hal ini. Kami bisa mengembangkan dan menguji AI yang lebih fleksibel dan lebih pintar.”

Petinggi Twitter Pencinta Batik Mengundurkan Diri

Chief Operating Officer (COO) Twitter, Adam Bain, mengundurkan diri dari perusahaan mikroblog tersebut. Hal itu diketahui dari sebuah dokumen yang dilaporkan Twitter ke situs pemerintah AS pada 9 November kemarin.

Dokumen mengatakan bahwa sang eksekutif yang merupakan pencinta batik tersebut angkat kaki dari Twitter. Posisinya digantikan Chief Financial Officer, Anthony Noto, sebagaimana dikutip KompasTekno dari dokumen tersebut, Kamis (10/11/2016).

Dengan ini, Noto mengambil alih semua tanggung jawab sebagai COO sekaligus CFO secara bersamaan untuk sementara waktu. Tugasnya sebagai COO berkaitan dengan penjualan iklan global, data, pengembangan bisnis, kemitraan global, serta pendapatan produk.

Mengepalai dua kaki sekaligus, Twitter sadar bahwa Noto tak bakal fokus. Layanan berlogo burung biru itu mengatakan, posisi tetap Noto nantinya bakal jadi COO. Posisi CFO sendiri akan diisi orang baru yang masih dalam tahap pencarian.

oik yusuf/ kompas.com
Presiden Global Revenue Twitter Adam Bain ketika berbicara dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (29/8/2014)

Baca: Bos Baru Twitter Ternyata Penggemar Batik Indonesia

Bain belum siapkan sekoci

Selain dari dokumen Twitter, pengunduran diri Bain diketahui pula dari status Twitter-nya. Bain tak mengungkap apa rencananya setelah hengkang dari Twitter.

Status itu cuma mengindikasikan bahwa ia ingin membuktikan kebolehannya melakukan hal baru di luar Twitter.

10 Nov
adam bain @adambain
so…I have some news
Follow
adam bain @adambain
After 6 years and a once-in-a-lifetime run, I let Jack know that I am ready to change gears and do something new outside the company.
5:04 AM – 10 Nov 2016
415 415 Retweets 1,333 1,333 likes

Menurut sumber dalam, Bain mengatakan kepada jajaran pemimpin Twitter bahwa dia tak bakal bekerja di perusahaan kompetitor semacam Facebook. Bain, kata sumber itu, memang bakal memiliki “mainan baru”, tetapi tak buru-buru.

Bain agaknya masih mau mengambil jeda untuk istirahat, sebagaimana dilaporkan Cnet dan dihimpun KompasTekno.

Bain sendiri bergabung di Twitter sejak enam tahun lalu. Ia termasuk tim awal yang bergabung di perusahaan tersebut dan turut merasakan jatuh bangunnya perusahaan.

Kepergian Bain menjadi kehilangan besar bagi Twitter. Menurut sumber, ia adalah salah satu talenta paling bersinar di Twitter dan paling banyak disukai pegawai lainnya.

Pada pertengahan tahun lalu, Bain bahkan digadang-gadang sebagai kompetitor kuat Jack Dorsey untuk menjadi CEO menggantikan Dick Costolo. Bain sejatinya membuat kicauan panjang soal kepergiannya. Anda bisa mengeceknya di sini.